KSPP SYARIAH TADBIIRUL UMMAH

memberdayakan ekonomi ummat

Sejarah Pendirian

 

 

KSPP SYARIAH TADBIIRUL UMMAH, pertama kali didirikan sebagai Lembaga Pemberdayaan Masyarakat di daerah Ds. Babakan, Kec. Dramaga, Bogor atas inisiatif beberapa mahasiswa IPB (Institut Pertanian Bogor). Berjalan dengan berkembangnya layanan maka dibentuklah BMT (Baytul Maal wat Tamwil) dengan dibantu oleh Yayasan PERAMU (Pemberdayaan Mustadhafiin) sebagai pendamping dan inisiator pada tanggal 20 Desember 1995. Pada tanggal 08 Agustus 1998, BMT TADBIIRUL UMMAH mendapatkan izin operasi sebagai Koperasi dengan No. Badan Hukum: 05/BH/KDK.105/VIII/1998 dengan jumlah anggota 20 orang dan modal disetor sebesar Rp. 9 juta, dan menjadi KBMT TADBIIRUL UMMAH. Pada Tahun 2015 sesuai dengan Peraturan Menteri semua koperasi yang menjalankan kegiatan simpan, pinjam dan pembiayaan dengan pola syariah harus berubah menjadi KSPPS (Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah).

Alhamdulillah sampai dengan akhir tahun 2015, jumlah modal yang berhasil dibukukan sebesar Rp. 603 juta, dengan total asset sebesar Rp. 13,5 milyar. Total anggota/mitra layanan (pembiayaan dan penyimpan dana aktif) k.l. 3.500 orang.

Saat ini KSPP SYARIAH TADBIIRUL UMMAH melayani 7 kecamatan yang tersebar di Kabupaten/Kota Bogor, yaitu: Dramaga, Ciampea, Tenjolaya, Ciomas, Babakan Madang, Sukaraja, Cibinong, dan Kota Bogor. Pasar tradisional yang dijangkau meliputi Ps. Anyar, Ps. Ciampea, Ps. Induk Kemang Bogor, Pasar Ciluar dan beberapa wilayah perdagangan disekitar Kampus IPB-Dramaga.

 

Berita Terbaru

KSPP Syariah Tadbiirul Ummah kedatangan tamu dari Unindra (Universitas Indraprasta PGRI), membicarakan kegiatan bersama dalam bentuk pelatihan branding (penguatan, pembuatan brand dan logo produk) untuk anggota-anggata KSPP Syariah Tadbiirul Ummah. Pelatihan ini dirancang oleh Tim Pelatih dan Pendamping dari Unindra untuk memberikan nilai tambah atas produk (saat ini masih produk makanan) yang diproduksi dan dipasarkan oleh anggota KSPP Syariah Tadbiirul Ummah. (Dramaga, 28/04/2016)

_________________________________________________________________________________________ 

Rangkaian pelatihan Perempuan Hebat Perempuan Mandiri yang dilakukan oleh KSPP Syariah Tadbiirul Ummah bekerjasama dengan Mien R. Uno Foundation (MRUF) dan Saratoga telah selesai dilaksanakan. Pelatihan dan pendampingan kepada anggota yang dilakukan antara lain Pelatihan Memasak Higienis; Pelatihan Operasional Usaha; Pelatihan Marketing dan Pemasaran Produk; dan ditutup dengan Pelatihan Pencatatan Keuangan Usaha. (Dramaga, 25/02/2016) 


Renungan Harian

 

MEMBERI DISAAT SULIT

Suatu hari Ali bin Abi Thalib mendapati kedua anaknya, Hasan dan Husain, sakit. Bahkan kedua cucu Baginda Rasulullah SAW itu mengalami sakit yang cukup lama sehingga Ali pun bernazar, “Jika Hasan dan Husain sembuh, aku akan berpuasa selama tiga hari”. Rupanya Allah mendengar nazar Ali tersebut hingga Hasan dan Husain pun sembuh.

Ali bin Abi Thalib bersama isterinya, Fatimah Az Zahra, pun berpuasa. Menjelang tiba waktu berbuka di hari pertama, hanya tersedia dua potong roti untuk makanan berbuka. Ketika waktu berbuka tiba, belum lagi keduanya menyantap roti tersebut, datang seorang fakir miskin yang mengetuk pintu mereka seraya meminta makanan lantaran perutnya belum terisi sejak beberapa hari. Urunglah Ali dan Fatimah melahap roti yang sudah digenggamnya, mereka pun meneruskan berpuasa hingga keesokan harinya.

Di hari kedua berpuasa, mereka pun hanya memiliki sepotong roti untuk dimakan berdua pada waktu berbuka nanti. Seperti halnya hari kemarin, tiba saatnya berbuka, pintu pun kembali terdengar diketuk seseorang. Rupanya seorang anak yatim yang meminta makanan karena kelaparan. Tak kuasa menahan iba, Ali pun memberikan sepotong roti itu kepada anak yatim itu. Keduanya kembali berpuasa.
Ujian memang selalu diberikan Allah kepada orang seperti Ali dan Fatimah. Bahkan di hari ketiga berpuasa pun, sepotong roti yang mereka punya pada saat menjelang berbuka ikhlas mereka berikan kepada seorang tawanan yang baru saja bebas namun tak mempunyai makanan. Ali, Fatimah, dan kedua anaknya, Hasan dan Husain mengerti bahwa semua ini hanyalah ujian kesabaran dari Allah.

Sebuah pelajaran yang teramat mengharukan dari keluarga Ali bin Abi Thalib dan keluarganya yang penyabar. Betapa Allah tengah menguji mereka, akankah mereka tetap beriman dan mau menyedekahkan rezeki milik mereka kepada orang lain, meskipun mereka teramat membutuhkan. Bahkan kisah yang teramat indah ini Allah lukiskan dalam Al-Quran Surat Al-Insaan (76): 8-10, agar menjadi pelajaran bagi kebanyakan manusia.

Memberi di saat berlebih adalah hal mudah, meski tidak semua orang melakukannya. Tetapi memberi di saat kita membutuhkan, hanyalah orang-orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah di surga kelak yang sanggup melakukannya. Butuh perjuangan, keikhlasan dan kesabaran untuk meniru apa yang dilakukan Ali bin Abi Thalib beserta keluarganya. Tentu saja kita bisa, jika kita mau.

“... barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia berbuat kebaikan...” (QS. Al-Kahfi:110)